Halaman

Jumat, 10 Mei 2019

MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN BERBASIS PPK, LITERASI, HOTS DAN PENILAIAN AUTENTIK DI YAYASAN PENDIDIKAN PARULIAN



Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 9 Mei 2019 bertepatan dengan hari ke 3 dan ke 4 bulan Ramadhan. Meskipun di bulan puasa tidak membuat turun semangat fasilitator maupun pesertanya. Pelatihan ini dilakukan dari mulai tingkat SD, SMP, SMA dan SMK sebanyak 200 orang peserta guru-guru Parulian tidak hanya dari Medan tetapi hadir juga guru-guru yayasan Parulian dari luar kota seperti Balige dan Dairi. Untuk tingkat SMP fasilitator yang dipercayakan untuk mendampingi peserta terdiri dari Drs. Jamal Husein Harahap, M.Pd Kepala SMPN 42 Medan (Instruktur Kurikulum 2013 Kota Medan), Dra. Khalida Agustina, M.Pd guru MTs N 3 Medan, Malahayati, S.Pd Guru SMPN 1 Medan (Instruktur Kurikulum 2013 kota Medan), Armen Siregar (Instruktur Kurikulum 2013 kota Medan), Susiana, M.Si dosen matematika Unimed.

Yayasan pendidikan Parulian bersama konsultan pendidikannya pak Agus Marwan menganggap sangat perlu mengupgrade kemampuan guru, sehingga pelatihan guru terus rutin dilakukan. Pelatihan dibuka oleh bapak Drs. Masrul Badri, M.Psi Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Medan. Pelatihan dilakukan dengan model pelatihan aktif dimana hasil pengembangan yang diperoleh di pelatihan langsung dipraktekkan, dalam hal ini di lakukan real teaching dikelas pelatihan berhubung siswa dalam kondisi libur saat pelatihan. Setelah dilatihkan bagaimana mengembangkan rancangan pembelajaran berbasis PPK, Literasi Hots dan penilaian autentik dengan model pelatihan HOTS, peserta mempraktekkan merancang RPP utuh dengan mengintegrasikan PPK, Literasi, HOTS dan penilaian autentik kemudian dilakukan simulasi tiap kelompok dan peserta lain bertindak sebagai siswanya. Dari hasil simulasi dilakukan refleksi dari seluruh peserta untuk dilakukan catatan perbaikan untuk menyempurnakan rancangan yang dibuat.


Model pelatihan dengan praktek langsung ini berbeda dengan pelatihan lainnya yang sering dilakukan guru-guru dimana pesertanya dicekoki dengan beragam teori yang kalaupun ada kegiatan merancang produk tidak sampai diuji cobakan dan melakukan refleksi dari dari hasil uji coba tersebut. Peserta dibuat seaktif mungkin menggunakan lembar kerja peserta (LKP), pengamatan video maupun pemodelan, tidak hanya mendengarkan ceramah dari pemateri sehingga menjadi pasif, bosan dan mengantuk. Setidaknya sebagian besar peserta menyatakan menyenagi model pelatihan aktif ini.Semoga guru terus jaya dengan inovasi tiada henti untuk pendidikan yang berkualitas. Salam literasi…..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

!-- Whatsapp Share Buttons Start -->