Pelatihan
ini dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 9 Mei 2019 bertepatan dengan hari ke 3 dan
ke 4 bulan Ramadhan. Meskipun di bulan puasa tidak membuat turun semangat
fasilitator maupun pesertanya. Pelatihan ini dilakukan dari mulai tingkat SD,
SMP, SMA dan SMK sebanyak 200 orang peserta guru-guru Parulian tidak hanya dari
Medan tetapi hadir juga guru-guru yayasan Parulian dari luar kota seperti
Balige dan Dairi. Untuk tingkat SMP fasilitator yang dipercayakan untuk
mendampingi peserta terdiri dari Drs. Jamal
Husein Harahap, M.Pd Kepala SMPN 42 Medan (Instruktur Kurikulum 2013 Kota Medan),
Dra. Khalida Agustina, M.Pd guru MTs N 3 Medan, Malahayati, S.Pd Guru SMPN 1
Medan (Instruktur Kurikulum 2013 kota Medan), Armen Siregar (Instruktur
Kurikulum 2013 kota Medan), Susiana, M.Si dosen matematika Unimed.
Yayasan
pendidikan Parulian bersama konsultan pendidikannya pak Agus Marwan menganggap sangat perlu mengupgrade kemampuan guru, sehingga pelatihan guru terus rutin
dilakukan. Pelatihan dibuka oleh bapak Drs.
Masrul Badri, M.Psi Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Medan. Pelatihan
dilakukan dengan model pelatihan aktif dimana hasil pengembangan yang diperoleh
di pelatihan langsung dipraktekkan, dalam hal ini di lakukan real teaching dikelas pelatihan
berhubung siswa dalam kondisi libur saat pelatihan. Setelah dilatihkan
bagaimana mengembangkan rancangan pembelajaran berbasis PPK, Literasi Hots dan
penilaian autentik dengan model pelatihan HOTS, peserta mempraktekkan
merancang RPP utuh dengan mengintegrasikan PPK, Literasi, HOTS dan penilaian
autentik kemudian dilakukan simulasi tiap kelompok dan peserta lain bertindak
sebagai siswanya. Dari hasil simulasi dilakukan refleksi dari seluruh peserta
untuk dilakukan catatan perbaikan untuk menyempurnakan rancangan yang dibuat.
Model
pelatihan dengan praktek langsung ini berbeda dengan pelatihan lainnya yang
sering dilakukan guru-guru dimana pesertanya dicekoki dengan beragam teori yang
kalaupun ada kegiatan merancang produk tidak sampai diuji cobakan dan melakukan
refleksi dari dari hasil uji coba tersebut. Peserta dibuat seaktif mungkin
menggunakan lembar kerja peserta (LKP), pengamatan video maupun pemodelan,
tidak hanya mendengarkan ceramah dari pemateri sehingga menjadi pasif, bosan
dan mengantuk. Setidaknya sebagian besar peserta menyatakan menyenagi model
pelatihan aktif ini.Semoga guru terus jaya dengan inovasi tiada henti untuk
pendidikan yang berkualitas. Salam literasi…..





